mylongjourney’s Weblog


Analog VS Digital dalam Hidup (Part 1)
May 22, 2008, 1:35 pm
Filed under: Ulasan Gak Guna | Tags: , , ,

Okeh, hari ini agak berat postingannya, masalah filosofi saya dalam mencerna apa yang terjadi. Saat menemukan atau lebih tepatnya menemukan kembali pengetahuan yang saya gak tau bener salahnya ini saya merasa jadi orang yang cerdas banget. Padahal aslinya biasa-biasa aja (ini pengaruh sugesti sesaat habis nonton film Jason bourne; si jenius itu).

Ide postingan ini sendiri timbul dari membaca postingan temen saya Rama (ada tuh blognya di blogroll saya) tentang sukses dan gak sukses. Begini…saya sudah lama memikirkan hal ini, bukan hanya tentang Sukses dan Gak Sukses tapi dulu lebih mengarah kepada bidang keilmuan saya (Teknik); Formula. Siapakah yang menciptakan ukuran suhu celcius, kenapa bisa disebut air mendidih pada suhu 100 derajat celcius??? Dari mana datangnya…..dan dari mana datangnya jam matahari yang kita pakai sekarang??? Darimana ukuran baku itu?? Eiittsss..bukan dari mananya yang jadi pertanyaan tapi fungsinya….fungsinya apalagi kalau bukan untuk membentuk suatu standar yang dapat digunakan mempermudah kehidupan manusia itulah definisi digital bagi saya…kata mempermudah disini dapat berarti memanjakan dan membantu…saya sangat skeptis bahwa kata mempermudah ini telah jatuh pada definisi memanjakan…bisa aja dilihat sendiri segala sesuatunya saat ii…apa-apa digital, jam, tipi, mobil, dll….semua sudah terukur dan manusia menggunakan semuanya untuk ”mempermudah hidup”. Digital adalah ciptaan manusia…ingat….ciptaan.. 

Tapi yang mereka lupakan adalah bahwa semua segala sesuatunya berawal dari apa yang disebut dengan analog, yaitu kebalikan dari digital. Dimana semua tidak ada ukuran pastinya…semisal: panasnya bara api kompor dan panasnya api las pasti akan lebih panas api las, lho dari mana kita tahu?? Itu lah analog..pengetahuan itu sudah ada dalam diri manusia sendiri yang tidak ditemukan oleh siapa-siapa tapi memang bawaan alias built in kita sendiri. Dah tau belum bedanya…sini deh saya kasi analogi: Jam digital dan Jam analog, apakah kalian tahu bedanya?? Hayoooo pikiiir mas..pikiirr….kok maunya dikasi tau terus…saya aja mikirnya dua minggu baru bisa jawab…

Sehubungan dengan postingan sohib saya seperti terbahas di paragraf pertama tentang arti sukses dan gak sukses yang menyebabkan dia sangat menderita karena omongan saudaranya; saya bisa kasi saran supaya gak terbelenggu dengan kata sukses….kalau mau beradu mulut tentang sukses ada baiknya kalian satukan pandangan dulu tentang apa definisi sukses, karena sukses yang bersifat digital bisa diterjemahkan sebagai apa saja…sukses itu adalah ciptaan manusia karena sifatnya digital kan?? Banyak uang bisa disebut sukses, tapi sedikit uang bisa juga disebut sukses (sukses miskinnnya..wehehehe)…bukaaann…sukses menerima cobaan yang di-Atas (weleh2…katanya orang yang religius nih)….

Tuh beda kan, bisa aja dengan punya pekerjaan tetap dibilang sukses tapi bisa jadi dengan jadi freelancer yang bebas disebut sebagai sukses…tergantung persepsi yang diciptakan otak manusia itu aja…daaannn salahnya adalah kadang-kadang, dan banyak orang yang mendewakan definisi digital ciptaan mereka dan memaksa menanamkan definisi yang sama kepada orang lain…SALAH BESAR a.k.a BIG MISTAKE. Kenapa mengejar sesuatu yang sifatnya digital padahal diri kita sendiri sudah punya standar ukuran yang analog…gak percaya, tanya pada hatimu yang paliiingg dalam…sudahkah kamu bahagia dengan hidupmu??? Kalau ada rasa bahagia terbersit maka kamu pantas menyebut dirimu sukses….yap, itu adalah bawaan kamu dari semenjak lahir…dan gak bisa dibohongi apalagi diciptakan…kalau bingung baca posting ini maka bingung lah, saya gak akan memaksa anda mengerti definisi saya, karena anda punya definisi analog sendiri dan saya sangat yakin analog kita sama, Cuma pembahasaannya saja yang berbeda..sekali lagi ya…bahasa juga digital loooohhh…jadi jangan terperangkap bahasa…cukup tangkap maknanya..

Ehhh….jadi pengen cerita neh ikhwal penemuan paham Analog & Digital ini. Ada salah satu contoh hasil penciptaan sesuatu yang digital dari sesuatu yang analog dan diterapkan dalam kehidupan yang menjadi tolak ukur keyakinan saya pada filosofi ini..wekeke…

Saat itu adalah waktu dimana kepala saya hampir pecah mencoba mendeskripsikan aliran transportasi laut dan darat penunjangnya akibat lumpur LAPINDOUW yang meluap terus tiada henti (network disruption) ke dalam sebuah model simulasi Tugas Akhir/Skripsi saya. Saya mencoba menjabarkan sebuah teori bahwa transportasi hinterland (darat ke pelabuhan) memiliki sifat yang dapat memperbaiki diri sendiri alias menemukan jalur transportasi yang paling optimal. Ini disebabkan operator dari alat transportasi adalah manusia yang mempunyai akal dan otak yang cerdas, yaaahh walaupun gak cerdas-cerdas amat tapi pasti bisa berpikir dalam logika seperti ini:

  1. Anggap tuh pengendara adalah supir truk container, jadi dia diburu schedule yang kemungkinan mengalami keterlambatan sampai pelabuhan akibat pengalihan rute lalu-lintas karena LAPINDOUW.
  2. Trus, ada 3 buah rute alternatif yang bisa dilalui, constraint atau batasannya adalah si pengendara harus sampai ke pelabuhan dengan waktu yang minimum. (karena ekstrimnya bisa ketinggalan kapal).
  3. Cara paling sederhana untuk mengetahui rute terminimum (memasukkan fungsi panjang jalan, lebar jalan, aliran lalu-lintas) adalah dengan mencoba dua dari tiga rute alternatif tersebut, misalkan pun pada percobaan pertama waktu minimum terpenuhi maka si pengendara pasti akan selalu melewati rute pertama tanpa pernah mau melewati rute kedua dan ketiga. Ya gak laaahh?? Wong batasannya sudah terpenuhi kok…..

Nah tugas saya waktu itu adalah membuktikan analisa ini dengan teori-teori transportasi modern dengan pemrograman sistem dinamis ataupun non-linear (waktu itu nyobanya pake software Vensim dan Macro Excel). Jadi saya mencoba mendigitalkan sesuatu yang analog., dan ini lah esensi dari akademis dan ilmu itu sendiri untuk saya….Ganjarannya karena saya telah berani membuat hal ini adalah nilai sempurna pada TA saya, karya ini dipublikasikan pada seminar nasional, diteliti lanjut oleh dosen saya yang S3 sebagai bahan unutk gelar profesornya (tentu dengan menyertakan nama saya sebagai peneliti awal), dan ganjaran terakhir adalah di lempari gelar GMRINA (Graduate Member of Royal Institute of Naval Architecture) dari asosiasi RINA dari negara asal Frank Lampard dan David Beckham.

Yap, sesuatu yang analog dan sesuatu yang digital itu saling berkaitan tapi kita harus ingat untuk tidak terjebak pada hal-hal digital yang notabene adalah bikinan manusia…seperti definisi dari sukses itu….saya merasa sudah sukses kok…(sukses mbacot dengan gak jelas….guoblok banget neeehh…aduuuhh jadi maluu)..

Note: saya selalu minta maaf dan rendah diri untuk mengurangi tekanan dan kadar kesombongan. Jadi ”monggo” dikritik aja postingan ini,,itu akan lebih baik…Thanks