Hanya gara-gara satu Botol??????
Satu kata : “Woooooowwww……”
Bunuh diri karena putus cinta?? pernah baca dikoran. Karena hilang pekerjaan??pernah liat di-TV. lah yang ini gara-gara botol. EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE?????????????????
Berita ini heboh banget buat saya pribadi, dan ini terjadi…
Baru-baru ini, sebuah botol kira-kira berisi 15 gram arsenic hilang dari salah satu laboratorium milik Kyushu University (ini kampus saya J ). Menurut berita dari surat kabar dan media online di sini, isi dari botol tersebut sanggup mengembalikan 100 nyawa manusia ke Tuhannya jika jatuh ke tangan yang salah.
Setahu saya (waktu kecil), arsenik itu adalah senyawa yang biasanya dipakai untuk racun tikus, tapi penggunaan lainnya ternyata bias berbahaya karena tidak berasa dan tidak berbau (menurut web ini http://water.epa.gov/lawsregs/rulesregs/sdwa/arsenic/index.cfm). Oke saya tidak akan bahas apa itu arsenic. Semua bisa dilihat di Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Arsenic), dan efek-efek sampingnya juga bisa di-googling sendiri.
Nah, salah satu Associate Professor disana (saya tidak sebut namanya) adalah orang salah seorang yang bertanggung jawab di Laboratorium tersebut dan juga orang terakhir yang mengaku melihat botol yang hilang tersebut dan kemudian melaporkannya ke pihak yang berwajib (polisi dan otoritas kampus).
Permasalahannya adalah, saya dapat info melalui salah satu grup di Facebook bahwa berita hari kemarin di The Mainichi Daily News menyebutkan bahwa sang Associate Prof. tersebut ditemukan tewas di dekat apartemennya yang diduga karena bunuh diri. Ini link berita lengkapnya : http://mdn.mainichi.jp/mdnnews/news/20111011p2g00m0dm101000c.html
Yang sangat-sangat mencengangkan saya lagi adalah, pihak universitas telah mengklaim bahwa botol yang hilang tersebut telah ditemukan (which means is a good news), namun hal itu tidak berarti karena sang Associate Prof. telah lebih dahulu meninggalkan dunia yang fana ini. Dunia oh Dunia…..
Mungkin ada hal-hal yang menjadikan si Associate Prof. melakukan tindakan bunuh diri ini, For your information, Japanese people has a shame culture in their life as well as Japan was known for its huge number of suicide in every year, tapi, sekali lagi…ini hanya masalah sebuah botol. Dan botol itupun akhirnya ditemukan. Apakah infonya telat sampai ke sang Prof. ataukah karena rasa bersalah yang terlalu dalam menyebabkan beliau mengambil tindakan ini.
Saya tidak berani menyalahkan dan tidak berani menduga lebih jauh. Setiap orang punya alasannya sendiri. Hanya saja, hati saya terperanjak. Saya prihatin dan turut berduka, karena seorang akademisi yang sudah barang tentu punya pemahaman yang baik akan logika berpikir sanggup mengambil langkah ini. Eman reek….suwe-suwe sinau ne….!!! Semoga arwah beliau mendapat ketenangan di alam sana.
Jangan berkata ini masalah mental cemen yang tidak sanggup menahan rasa malu, atau karena tekanan yang besar dari kolega sekitarnya. Kita tidak bisa menilai orang lain apalagi yang belum dikenal begitu saja. Saya lebih percaya bahwa ini adalah tindakan yang diambil karena kultur semata. Dan mengamini kalimat saya diatas tentang kultur budaya masayarakat Jepang. Kasus ini adalah bukti nyatanya.
Haaaahh…andai saja kalo koruptor(s) bakalan bunuh diri sehabis ketahuan belangnya. Indonesia gak/belum/gak akan pernah punya budaya malu sebesar itu sih. Gak berharap juga sih…tapi minimal malu dikit lah….
Anyway busway, Hal ini menjadikan saya ingin belajar lebih dalam lagi tentang sejarah Negara ini. Apa sih yang membentuk karakter mereka, dan bisakah saya mengambil hanya yang positif-positifnya saja dan belajar dari hal yang negatifnya????
You know, I know, we both know that I don’t know yet
PS: Jangan bunuh diri lah, mendingan kawin lari.
//PH





Sepertinya karena malu, soalnya laporan botol ilang dan ada konferensi pers segala Wednesday (4 oktober), kemudian laporan botol kembali ketemu Friday (7 oktober). Si bapak ini ditemukan meninggal Tuesday (11 Oktober). Malu yang teramat sangat, karena mereka percaya kehidupan hanya ada di dunia ini sehingga bunuh diri menjadi obar mujarab.
Ok, bisa diterima lah kalo malu (sesuai budayanya),
tapi masih gak kepikiran aja, kan botolnya ketemu toh. beda halnya kalau ternyata botol itu disalahgunakan oleh pihak lain yang berakibat hilangnya nyawa.
konferensi pers tandingan lak isok seh..koyok sing nang tipi2 kanti berlutut barang.
Sayang seribu sayang, harus seperti itu jadinya.
Nampaknya sang porf mesti belajar dari anggota dewan.
isi botolnya yang bikin itu kasus jadi serius, atau mungkin botol tersebut hanyalah sebuah… misterious mode: on
Malu apa harga diri?
menurut para pakar budaya sih harga diri….tapi kalo pendapat saya pribadi sih malu…