Okeh, hari ini agak berat postingannya, masalah filosofi saya dalam mencerna apa yang terjadi. Saat menemukan atau lebih tepatnya menemukan kembali pengetahuan yang saya gak tau bener salahnya ini saya merasa jadi orang yang cerdas banget. Padahal aslinya biasa-biasa aja (ini pengaruh sugesti sesaat habis nonton film Jason bourne; si jenius itu).
Ide postingan ini sendiri timbul dari membaca postingan temen saya Rama (ada tuh blognya di blogroll saya) tentang sukses dan gak sukses. Begini…saya sudah lama memikirkan hal ini, bukan hanya tentang Sukses dan Gak Sukses tapi dulu lebih mengarah kepada bidang keilmuan saya (Teknik); Formula. Siapakah yang menciptakan ukuran suhu celcius, kenapa bisa disebut air mendidih pada suhu 100 derajat celcius??? Dari mana datangnya…..dan dari mana datangnya jam matahari yang kita pakai sekarang??? Darimana ukuran baku itu?? Eiittsss..bukan dari mananya yang jadi pertanyaan tapi fungsinya….fungsinya apalagi kalau bukan untuk membentuk suatu standar yang dapat digunakan mempermudah kehidupan manusia itulah definisi digital bagi saya…kata mempermudah disini dapat berarti memanjakan dan membantu…saya sangat skeptis bahwa kata mempermudah ini telah jatuh pada definisi memanjakan…bisa aja dilihat sendiri segala sesuatunya saat ii…apa-apa digital, jam, tipi, mobil, dll….semua sudah terukur dan manusia menggunakan semuanya untuk ”mempermudah hidup”. Digital adalah ciptaan manusia…ingat….ciptaan..
Tapi yang mereka lupakan adalah bahwa semua segala sesuatunya berawal dari apa yang disebut dengan analog, yaitu kebalikan dari digital. Dimana semua tidak ada ukuran pastinya…semisal: panasnya bara api kompor dan panasnya api las pasti akan lebih panas api las, lho dari mana kita tahu?? Itu lah analog..pengetahuan itu sudah ada dalam diri manusia sendiri yang tidak ditemukan oleh siapa-siapa tapi memang bawaan alias built in kita sendiri. Dah tau belum bedanya…sini deh saya kasi analogi: Jam digital dan Jam analog, apakah kalian tahu bedanya?? Hayoooo pikiiir mas..pikiirr….kok maunya dikasi tau terus…saya aja mikirnya dua minggu baru bisa jawab…
Sehubungan dengan postingan sohib saya seperti terbahas di paragraf pertama tentang arti sukses dan gak sukses yang menyebabkan dia sangat menderita karena omongan saudaranya; saya bisa kasi saran supaya gak terbelenggu dengan kata sukses….kalau mau beradu mulut tentang sukses ada baiknya kalian satukan pandangan dulu tentang apa definisi sukses, karena sukses yang bersifat digital bisa diterjemahkan sebagai apa saja…sukses itu adalah ciptaan manusia karena sifatnya digital kan?? Banyak uang bisa disebut sukses, tapi sedikit uang bisa juga disebut sukses (sukses miskinnnya..wehehehe)…bukaaann…sukses menerima cobaan yang di-Atas (weleh2…katanya orang yang religius nih)….

Tuh beda kan, bisa aja dengan punya pekerjaan tetap dibilang sukses tapi bisa jadi dengan jadi freelancer yang bebas disebut sebagai sukses…tergantung persepsi yang diciptakan otak manusia itu aja…daaannn salahnya adalah kadang-kadang, dan banyak orang yang mendewakan definisi digital ciptaan mereka dan memaksa menanamkan definisi yang sama kepada orang lain…SALAH BESAR a.k.a BIG MISTAKE. Kenapa mengejar sesuatu yang sifatnya digital padahal diri kita sendiri sudah punya standar ukuran yang analog…gak percaya, tanya pada hatimu yang paliiingg dalam…sudahkah kamu bahagia dengan hidupmu??? Kalau ada rasa bahagia terbersit maka kamu pantas menyebut dirimu sukses….yap, itu adalah bawaan kamu dari semenjak lahir…dan gak bisa dibohongi apalagi diciptakan…kalau bingung baca posting ini maka bingung lah, saya gak akan memaksa anda mengerti definisi saya, karena anda punya definisi analog sendiri dan saya sangat yakin analog kita sama, Cuma pembahasaannya saja yang berbeda..sekali lagi ya…bahasa juga digital loooohhh…jadi jangan terperangkap bahasa…cukup tangkap maknanya..
Ehhh….jadi pengen cerita neh ikhwal penemuan paham Analog & Digital ini. Ada salah satu contoh hasil penciptaan sesuatu yang digital dari sesuatu yang analog dan diterapkan dalam kehidupan yang menjadi tolak ukur keyakinan saya pada filosofi ini..wekeke…
Saat itu adalah waktu dimana kepala saya hampir pecah mencoba mendeskripsikan aliran transportasi laut dan darat penunjangnya akibat lumpur LAPINDOUW yang meluap terus tiada henti (network disruption) ke dalam sebuah model simulasi Tugas Akhir/Skripsi saya. Saya mencoba menjabarkan sebuah teori bahwa transportasi hinterland (darat ke pelabuhan) memiliki sifat yang dapat memperbaiki diri sendiri alias menemukan jalur transportasi yang paling optimal. Ini disebabkan operator dari alat transportasi adalah manusia yang mempunyai akal dan otak yang cerdas, yaaahh walaupun gak cerdas-cerdas amat tapi pasti bisa berpikir dalam logika seperti ini:
- Anggap tuh pengendara adalah supir truk container, jadi dia diburu schedule yang kemungkinan mengalami keterlambatan sampai pelabuhan akibat pengalihan rute lalu-lintas karena LAPINDOUW.
- Trus, ada 3 buah rute alternatif yang bisa dilalui, constraint atau batasannya adalah si pengendara harus sampai ke pelabuhan dengan waktu yang minimum. (karena ekstrimnya bisa ketinggalan kapal).
- Cara paling sederhana untuk mengetahui rute terminimum (memasukkan fungsi panjang jalan, lebar jalan, aliran lalu-lintas) adalah dengan mencoba dua dari tiga rute alternatif tersebut, misalkan pun pada percobaan pertama waktu minimum terpenuhi maka si pengendara pasti akan selalu melewati rute pertama tanpa pernah mau melewati rute kedua dan ketiga. Ya gak laaahh?? Wong batasannya sudah terpenuhi kok…..
Nah tugas saya waktu itu adalah membuktikan analisa ini dengan teori-teori transportasi modern dengan pemrograman sistem dinamis ataupun non-linear (waktu itu nyobanya pake software Vensim dan Macro Excel). Jadi saya mencoba mendigitalkan sesuatu yang analog., dan ini lah esensi dari akademis dan ilmu itu sendiri untuk saya….Ganjarannya karena saya telah berani membuat hal ini adalah nilai sempurna pada TA saya, karya ini dipublikasikan pada seminar nasional, diteliti lanjut oleh dosen saya yang S3 sebagai bahan unutk gelar profesornya (tentu dengan menyertakan nama saya sebagai peneliti awal), dan ganjaran terakhir adalah di lempari gelar GMRINA (Graduate Member of Royal Institute of Naval Architecture) dari asosiasi RINA dari negara asal Frank Lampard dan David Beckham.
Yap, sesuatu yang analog dan sesuatu yang digital itu saling berkaitan tapi kita harus ingat untuk tidak terjebak pada hal-hal digital yang notabene adalah bikinan manusia…seperti definisi dari sukses itu….saya merasa sudah sukses kok…(sukses mbacot dengan gak jelas….guoblok banget neeehh…aduuuhh jadi maluu)..
Note: saya selalu minta maaf dan rendah diri untuk mengurangi tekanan dan kadar kesombongan. Jadi ”monggo” dikritik aja postingan ini,,itu akan lebih baik…Thanks
42 Comments so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
buset bahasanya ngeri banget tar dah gw kasih komen blom sempet baca
Comment by aris khomeini May 22, 2008 @ 3:28 pmkesimpulan sempitnya
analog itu :
tidak melibatkan rangkaian logika. Contoh, motor. Walaupun kamu ngebut di jalan macet si motor ga akan ngasi tau kamu klo kamu untuk ngurangin kecepatan.
klo digital :
melibatkan rangkaian logika. Contoh : Cara kerja rice cooker tu menganggap nasi udah mateng dengan mengukur suhu dan kelembaban udara yang diinferensikan dengan fuzzy logic.
Jika dikaitkan dengan hidup manusia :
Manusia analog :
orang yang bisa bekerja konsisten tanpa terpengaruh lingkungan. Biar temen sekantor naik pangkat karena menjilat atasan karena tau atasan suka kue donat(logika tu!). Dia tetep bekerja menjalankan tugasnya aja.
Manusia Digital :
Jika saya bekerja dan punya pacar, pacar saya minta segera dinikahkan, saya harus segera mendapatkan penghasilan yg lebih untuk memiliki rumah sendiri. Jika uang tunai tidak cukup maka ambil kredit.
Kerja analog tu kayak ga punya tujuan. Tapi kerja digital juga bahaya klo kesimpulan & keputusannya salah.
Dalam kasus teknik emang banyak perangkat berlogika yang pada masa pengujian benar untuk beberapa kasus namun pada prakteknya ternyata error pada beberapa kasus.
Kata-kata bijak :
Manusia bisa menghasilkan logika baru saat semua pengetahuannya dianggap tak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya suatu saat.
Sedangkan klo mesin, jika kasus tidak ada dalam pengtahuannya, solusi ia memilih solusi terdekat dari pengetahuannya yang ga bisa berlaku pada kasus itu. & akhirnya duaaaar…
Comment by er May 23, 2008 @ 4:43 pmklo masalah sukses ga sukses… dalam hidup… emang robert kiyosakit jiwa malah matok penghasilan tertentu sebagai tolak ukur kekayaan.
Oke penghasilan 1,5 jt untuk anak kos yg naik motor itu cukup.
Tapi klo dia udah punya anak & istri ya ga cukup.
Klo seseorang merasa udah sukses ber IP 3,6 di kedokteran padahal dia belum tamat & kerja ya dia emang sukses. sukses kuliah. Tapi klo dia tamat malah dikirim ke papua & nikah ama cewek yg paling cantik di suku pedalaman di papua ya aku no comment
Klo ada seniorku yg DO tapi setelah itu milih kerja disain grafis ama bule & bolak2 australi. Dia gagal kuliah, tapi sukses dalam kerja.
Sukses itu ga ada yg abadi. Hari ini sukses pada satu titik, besok belum tentu. Sekarang dia sukses lagi 40 tahun dia gagal dan jadi miskin karena anak2nya ngabisin semua warisannya untuk foya2.
Jadi lihat kelebihan tiap orang, & lihat kekurangan diri sendiri. Itu kata Pak Gede Prama… Om Santi Santi Santi Om…
Comment by er May 23, 2008 @ 4:53 pmkenapa banyak orang miskin di indonesia? percaya salah satunya terlalu cepet nikah, & punya anak banyak. Logikanya ga maen. Atau logikanya perlu di-update!
Oya makanya alat yg digital tu perlu update tiap tahunnya. Klo inputnya emang berubah terus…
Comment by er May 23, 2008 @ 5:01 pmhahaha..masuk akal…
jadi kejarlah sesuatu yang analog alias tidak terukur secara matematis tapi kamu tau range ukurannya…jadi sukses kamu itu gak dibatasi oleh pandangan sempit hasil ciptaan manusia..
lagian ipk 3.6 di kedokteran bisa aku bilang gagal sebagai dokter. wong dokter itu gak boleh salah..kalo 3,6 artinya dia belum menguasai yang 0,4 lagi kan…kalo pas ngoperasi pasien yang 0,4 itu yang keluar gimana???
Comment by mylongjourney May 24, 2008 @ 10:01 amwah keren arttikel lo
* puyeng *
Comment by erickningrat May 24, 2008 @ 2:18 pmpengen nanya neh, standarisasi analog dan digital itu seperti apa? mungkin bisa defenisinya
gw jadi bingung jam analog dan digital.
tambah lagi,sytem analod dalam kerja saraf manusia itu, seperti apa, mungkin ada kesamaan analog dan digital dari segi view design nya?
Comment by erickningrat May 24, 2008 @ 2:25 pmdari segi efektivitas apakah ada hubungannya? jika sistem kerja manusia ( personal ) menjadi standarnya.
( at least pertanyaan ngawur hahahaha )
barometernya apa bro? analog ato digital
Comment by erickningrat May 24, 2008 @ 2:38 pm@ om erick
pandangan ane sih..sederhananya begini.
analog adalah sesuatu yang tidak terukur secara generik atau lebih tepatnya belum ada standar ukuran pastinya oleh manusia…contoh jam: waktu detik berjalan itu kan adalah satu putaran, coba om perhatiin jam analog yang jadul dengan jarum tanpa angka..itulah pengertian analog sebenranya…jam yang dengan angka itu dah kategori digital..jam tanpa angka itu kan didapat dari orang mesir yang nancepin tongkat ditengah teriknya matahari dan bayangannya itulah yang jadi acuan jam analog..
digital adalah segala metode pengukuran yang sudah diukur ama manusia…contohnya jam digital ya jam yang pake jarum plus angka itu atau yang lebih canggih jam yang tanpa jarum, cuman angka doank…itulah digital artinya..
lebih sederhananya lagi, analog itu adalah sesuatu yang berjalan alami dan digital adalah sesuatu yang dikendalikan…analog susah ditebak dan tidak bisa diukur mana puncak mana kakinya, kalau digital bisa…
jadi aq prefer jadi analog aja…ini terkait dengan sukses, seperti bahasan posting yang gak jelas ini..emang filosofis yang aneh..
Comment by mylongjourney May 24, 2008 @ 2:40 pmipk itu bagiku adalah digital….3,6 digital…padahal orang pinter kan sebenrnya gak bisa cuman diukur lewat ipk..tapi untuk mempermudah sistem maka dibuatlah suatu ukuran digital berupa ipk dari skala 0-4..
ini yang menurutku salah kaparah karena saat ini sudah sangat terpaku pada hal2 yang digital sperti IPK itu, padahal…yah..u know, i know we both know…
itu cuman alat ukur, tools for measurement yang menyangkut informasi secuil tentang kemampuan seseorang….world sometimes became not fair because of that..
Comment by mylongjourney May 24, 2008 @ 2:45 pm@ om erickkzz
jadi om mau pilih yang mana?? terikat pada digitalisme atau bebas seperti analogisme….ini bisa masuk resensi punk juga…terikat pada ideologi sempit atau berpikir bebas dan mengembangkan ideologi punk dalam sendi2 kehidupan
punk can be smart, we are not old school punk or street punk anymore…it has become lifestyle…i want that punk ideology keep in my heart…when ever i can, i will strike capitalism…hehehe…pernyataan bodoh
Comment by mylongjourney May 24, 2008 @ 2:48 pmvaliditas artikel ini sedapatnya bisa saya pertanggung jawabkan lah…wong ada dasar teorinya kok..hehehehe..buktinya saya bisa lulus…hahaha..hohoho..
punk belum mati…kami berjuang lewat jalan yang baru
Comment by mylongjourney May 24, 2008 @ 2:53 pm@ all
satu contoh lagi:
waktu dengerin musik di radio jadul ama radio sekarang
yang di radio jadul itu kan pake setelan bundar untuk cari2 frekuensi, ya toh…(itu kategori analog), kalo radio modern kan tinggal pencet next frequency trus dia cari frekuensi sendiri dengan cepat (digital)…
tapi ini belum tepat juga sih menerangkannya coz alat pengukur pada radio jadul juga bisa tergolong digital pada jaman itu..jadi tergantung jemannya nih? ya donk….yang ada waktu dulu adalah analog dari yang ada sekarang…
waduh bingung..ngopi dulu ahh…
Comment by mylongjourney May 24, 2008 @ 2:58 pmmungkin pikiran gw terlalu bias kali ya…, bagaimana jika kedua ” system ” itu analog dan digital ( karena menurut gw berdasarkan argument lo di atas, jika kedua hal itu “analog dan digital” di sebut system akan mennjaddi metode yang lebih tepatnya di sebut “digital itu tadi”) menjadi suatu tolak ukur dalam menilai suatu objec?
Comment by erickningrat May 24, 2008 @ 3:04 pmapa kedua hal itu bisa dikatakan digital, karena menurut gw terlalu banyak multi tafsir dari kedua hal ini.
@ om erickkzz..
Comment by mylongjourney May 24, 2008 @ 3:07 pmyap emang bisa jadi multi tafsir….tapi kalo berpegang pada analog adalah sesuatu yang belum diukur dan digital adalah sesuatu yang sudah diukur maka gak akan bias..itu aja dulu dipegang..
aaahh jadi pengen duduk satu meja sama om erick dan berdebat tentang ini sampe malem sambil minum secangkir nescafe trus dini harinya nongkrong di circle k minum black label…mantabzzz
Comment by mylongjourney May 24, 2008 @ 3:10 pmwokeh gw ngerti sekarang ( berdasarkan dari judul lo diatas “analog dan digital dalam hidup” ) ada benang merah disini. kalo ga salah flexiblelitas makna, tergantung kedua itu lo terapkan dimana, bukan begitu bro?
Comment by erickningrat May 24, 2008 @ 3:13 pmya, you can say that uncle…di posting ku kan temenku menghadapi dilema dari sodaranya yang anak kedokteran (si x) trus bilang temenku itu gak sukses dan menganggap dirinya sukses (secara dia anak kedokteran)…nah itu yang aku kritik..pahamnya sungguh digitalis terhadap sukses…gmana om…setuju..??
Comment by mylongjourney May 24, 2008 @ 3:18 pmyeah ! kalo sudut pandang dia mungkin sah2 aja dia ngomong gitu! seperti gw bilang pesonal opinion, pembenaran masing2.
menurut gw! hal itu sangat egoistic jika bedasarkan sudut pandang kita rasional ( eh apakah termasuk digitalisme ya )
dan akan menjadi sangat subyektif jika di lihat dari, presfektif lo!
this is a true
ini yang gw suka bro
Comment by erickningrat May 24, 2008 @ 3:37 pmsalut !
thanks om….i really appreciate that…keep D.I.Y..
Comment by mylongjourney May 24, 2008 @ 4:12 pmsemua orang ada kekurangannya…jadi maafkan kalau sifatnya subyektif yah…
Comment by mylongjourney May 24, 2008 @ 4:13 pmsatu lagi bro, kadang hati ini butuh suntikan analog yang berenergi positif.agar bisa menemukan fungsinya sebagai “hati”. ( cieee berat banget )
Comment by erickningrat May 25, 2008 @ 10:37 pmtambah lagi nih…..
Comment by erickningrat May 25, 2008 @ 10:39 pmgw ada draft postingan tentang * kecerdasan dalam hidup * terinflunce dari artikel lo.
mana om, aku mau baca? ditunggu postingannya…kita harus D.I.Y dengan smart…
emang kita perlu hati om…hati..catet!..
Comment by mylongjourney May 26, 2008 @ 10:02 ambro karena jerawat dalam otak ini selalu tumbuh,
Comment by erickningrat May 26, 2008 @ 2:10 pmgw lagi bingung tentang defenisi analog dan digital,
kembali ke dunia teknik sekilas alat ( pengukur ) yang analog digital mempunyai ciri yang berbeda,
analog = menggunakan gaya mekanik, dan acuan anggak secara tertulis ( oleh tangan manusia yang bersipat pasif, dan alat pengukur digital kebanyakan menggunakan eletrical ( bener ga yach )
disini ada penyeragaman makna bro , berarti kedua hal itu analog dan digital adalah berdasarkan hal2 yang telah di tetapkan oleh manusia,tepatnya
seperti digital yang lo bilang tadi.
thanks bi for penjelasannya choyyyy………
ya secara teknikalnya saya setuju dengan komennya om erick tentang alat pengukur itu…
Comment by mylongjourney May 26, 2008 @ 6:17 pmdari definisi itu saja bisa klita ambil contoh permasalahan…lebih baik mana kita tau batas ukuran kemampuan kita yang dinilai oleh orang (IQ-digital) atau kita tidak tahu (Tingkat kepintaran alamiah yang tidak ada batasnya-Analog)
…*@#$^&%…
lebih mudah praktek daripada teori
atau sebaliknya
tapi lebih mudah menggunakan otak daripada mengutak-atik isinya
loh kok kayak pantun???
Comment by 47isdead May 26, 2008 @ 7:03 pmlebih mudah minum kopi kalo lagi suntuk, tinggal cari warkop..wekekeke…
udah jalanin aja hidup kaliaann…aq juga..beres..
Comment by mylongjourney May 26, 2008 @ 7:38 pmwaahh…rame pisan..ayo kritik terussss.,,
Comment by mylongjourney May 26, 2008 @ 7:44 pm*makin banyak dikritik makin meresap ilmunya…
[...] dari kawanku mylongjourney, tentang defenisi dan metode yang di gunakan dalam mengaplikasian teori analog dan digital dalam [...]
Pingback by cerdas dalam hidup ! « anak punk May 26, 2008 @ 11:58 pm@ om cerdas dalam hidup..
Comment by mylongjourney May 27, 2008 @ 10:19 ammakasi dah mampir om, tapi maksudnya apaan…aq gak ngerti om?? banyak semutnya di awal sama akhir kalimat…(hiks..bahasa planet pluto)
hehehe sory bro pingnya aktif
Comment by erickningrat May 27, 2008 @ 2:07 pmoalaaaahhhh….
Comment by mylongjourney May 27, 2008 @ 4:46 pmeh long
di pic lo, lo lagi nelan apa yach? * penasaran *
Comment by erickningrat May 27, 2008 @ 5:14 pmlaptop kesayanganku..hahaha..
itu kejadiannya habis dimarah klien, trus aq gigit laptop ada temen yang jepret
Comment by mylongjourney May 28, 2008 @ 10:49 ambanyak yg harus dikomentari..
1. ukuran air mendidih atau zat apapun mendidih adalah ketika tekanan pada zat sama dengan tekanan di luar (udara). Jadi, bisa dikatakan bahwa air mendidih di dataran rendah dengan air mendidih di dataran tinggi mempunyai waktu mencapai didih yang berbeda karna tekananNya berbeda..
2. 1 + 1 bukan 2. Kata einsten dalam hukum relativitas, bahwa ada faktor lain dalam praktek yang membuat teori2 perhitungan kita salah selama ini. Jadi, analog dan digital harus disatukan. Digital tanpa pemikiran analog juga akan mati! alias gak jalan..
3. aq sempet bingung pas baca judulnya.. ambigunya adalah pengertian analog itu sendiri dalam bahasa indonesia kan analog = persamaan (sifat mirip, asal berbeda), kalo monolog (asal sama). Contohnya, kaki kucing analog dengan tangan manusia sama2 digunakan untuk memegang,dsb. hehe,,kalo analog disini adalah jadul, ato pemikiran ato somtin yg tidak berdasar itung2an, alias bdasar logika.. Jadi, awalnya aq sempet bingung..
4. i think, i’m 99% analog!!!
5. Dokter dpt IPK 3,6 bangga??? mana tuw dokter???? mau ditawurin anak 1 farmasi apa???!!!!
banyak dosen yang bilang farmasi jauh lebih susah dr dokter… but,,,wait…
aq inget waktu ada pertemuan pihak dekan dan mahasiswa perihal kemahasiswaan,, disitu salah seorang temenQ bilang bahwa janganlah memberikan ukuran IPK hanya berdasarkan UTS dan UAS yang notabene soalnya pilihan ganda, sebab-akibat dan 1-2-3-4, kalo diliat di kelas, ketika ada tugas cari jurnal, presentasi dan diskusi,,ternyata anak2 PMDK lebih unggul dan dosen2 banyak yg applaus sama kita (kelas PMDK). Disini dapat dilihat bahwa ukuran digital tidak mewakili logika dan penalaran kita dalam memecahkan studi kasus. Andaikan saja sistem kurikulum kita berubah, kayaknya yg IPK 3,6 tadi bisa jadi hanya ber IPK 2,0. Mungkin saya yang ber IPK 2,74 jadi 3,7. amin….
6. DosenQ jg sering bilang bahwa mahasiswa sekarang uda mundur.. knapa? karna uda ada fasilitas ini-itu. papan tulis uda diganti dgn layar LCD dan proyektor. buku tulis digantikan laptop. Jadinya kita nggak brusaha maksimal dalam blajar…
7. aq bangga ma cowokQ yg jenius di bidangnya.. tp itu bukan ukuran sukses seumur hidup.. tp at least ada yg dibanggakan. ya nggak hon??
ya uda gt dulu.. ntar lg comentNya..
Comment by skan June 3, 2008 @ 12:08 pm@skan
waaahhh komennya panjang,
aq setuju banget sama komen no.4 -7
terutama no 6, digitalisasi bikin kita tambah bego ternyata
Comment by mylongjourney June 3, 2008 @ 6:56 pmada lagi salah satu kategori analog…perasaan..can you measure one’s feeling to another and to yourself?? nggak khan…bahkan yang punya perasaan terkadang juga gak tau seberapa besar atau kecilnya perasaan dia..
Comment by mylongjourney June 3, 2008 @ 11:59 pmseperti kata lo pren, jalani aja hidup kita masing2,semua pasti menemukan jalannya
Comment by erickningrat June 4, 2008 @ 12:13 pmyup.. let it flow n kita bakal nemuin cara untuk menempuh jalan yang kita lalui..
Comment by skan June 8, 2008 @ 9:49 pmspontan bgd gt…
Tentang Analog dan Digital saya lebih setuju,dan dapat dengan mudah mengerti yang disampaikan Eric.
Selain itu, Penggunaan kata Skeptis dalam postingan diatasi apakah tidak lebih baik diganti menjadi RAGU??
Yang saya tahu Skeptis itu merupakan paham yang meragukan segala sesuatu. Paham tersebut diperkenalkan oleh orang Yunani dengan nama kelompoknya Sophis. Jadi Skeptis itu sebenarnya ( menurut yang saya tahu ) adalah suatu paham, bukan rekasi atau tanggapan kita terhadap sesuatu ( ragu,yakin,dsb).
Sama halnya dengan istilah NRSIS. Banyak kaum muda yang sedikit2 mengatakan NARSI BANGET SHI LOE,,, Ada orang foto, langsung ah Narsis banget shi loe,,
Tetapi kalo kita kembali apa arti narsis itu,mungkin banyak pemakaian yang tidak tepat. Narsis merupakan paham yang mengagunggkan atau melakukan segala sesuatu mengarah ke diri sendiri. Hampir sama dengan Egois tapi bukan.
Demikin dari saya,,kalo ada yang salah mohon Koreksi,,terima kasih,
Comment by Joni Hendra Tarigan April 15, 2009 @ 6:23 pmWah..begitu beda ya pengertian skeptis?? artinya skeptis yang saya pahami selama ini salah donk..bagus juga nih koreksinya (sekali-sekali yang punya blog mesti legowo kalo salah)…
Jadi tanggapan saya (menanggapi yang mana dulu yah)
1). Masalah Analog vs Digital, saya rasa pendapat Eric memang lebih sederhana, kalau pemikiran saya mungkin terlalu njelimet dan dalam (yang diajak diskusi juga lebih njelimet)
2). Masalah tata-bahasa (wah ide bagus nih!!!) , padahal saya ini termasuk orang yang diakui punya tata bahasa bagus loh, apalagi yang lain yah. Apa kita tidak salah belajar bahasa indonesia waktu muda dulu ya?? who knows??
Thx komennya ya…Bang Joni…cheers (Udah hampir setahun gag update gara-gara promosi dan sibuk dengan dunia nyata)
Comment by mylongjourney September 16, 2009 @ 5:53 pm